OPINI TENAGA PENDIDIK DAN MAHASISWA DALAM PELAKSANAAN KULIAH DI AKREL SECARA DARING DAN LURING SEMESTER GANJIL DAN GENAP T.A. 2021/2022

AKREL (20/07/2022), Peningkatan kasus COVID-19 diseluruh Indonesia mengakibatkan peningkatan angka kematian sehingga menjadikan indonesia masuk ke dalam keadaan darurat nasional. Hal tersebut mempengaruhi adanya perubahan-perubahan dan pembeharuan kebijakan untuk diterapkan. Kebijakan juga terjadi pada dunia pendidikan yang mengubah pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka karena pandemi akhirnya proses pembelajaran dilaksanakan secara daring atau online untuk memotong mata rantai penyebaran COVID-19 serta upaya mengurangi interaksi banyak orang yang dapat memberikan akses pada penyebaran virus corona. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan social distancing, yang kemudian dikeluarkannya Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Tinggi No. 1 Tahun 2020 mengenai pencegahan penyebaran COVID-19 di dunia Pendidikan. Dalam surat edaran ini, Kemdikbud menginstruksikan untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dan belajar dari rumah masing-masing (Study From Home/SFH). Kebijakan ini kemudian dikenal dengan nama pembelajaran daring/dalam jaringan.

Pada situasi yang tidak kondusif ini, AKREL tetap berupaya memberikan layanan pendidikan bagi mahasiswanya dengan maksimal dan memanfaatkan segala fasilitas serta sarana dan prasarana yang tersedia. Kegiatan pembelajaran di AKREL pada semester genap tahun ajaran 2021/2022 dilaksanakan secara daring maupun luring . Segala bentuk materi mata kuliah didistribusikan secara online melalui platform yang telah tersedia, sedangkan kegiatan praktikum dilakukan secara tatap muka. Beberapa fasilitas yang sering digunakan oleh tenaga pendidik/dosen diantaranya Google Clasroom, grub WhatsApp dan Aplikasi Zoom

Diawal pembelajaran pada semester ganjil tahun ajaran 2022, AKREL melakukan reviu sistem pembelajaran daring dan luring yang sudah dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2021/2022, dengan menanyakan langsung kepada perwakilan dosen dan mahasiswa untuk keberlangsungan proses pembelajaran pada semester berikutnya.

Menurut Muhammad Subhan Hamka, S.Pi, M.Si salah satu dosen di Program Studi Budidaya Perikanan Air Tawar, pembelajaran secara daring memiliki sisi positif dan negatif. “Kelebihan pembelajaran daring menurut saya diantarnya mampu membangun suasana belajar yang baru, sehingga dapat menumbuhkan antusias mahasiswa dalam belajar. Selain itu, mahasiswa dapat mengakses materi ataupun informasi yang diberikan kepada pendidik secara fleksibel tanpa terikat oleh waktu. Sedangkan kekuranganya mahasiswa sulit untuk fokus dalam pembelajaran dikarenakan kondisi dan lingkungan rumah yang kurang kondusif, keterbatasan kuota internet, gangguan sinyal dan lain-lain” pungkas Hamka. 

Lebih lanjut beliau menjelaskan “pembelajaran secara daring menjadi lebih sulit bagi dosen untuk mengawasi mahasiswa pada saat proses pembelajaran karena terbatas pada media saja, sehingga dimungkinkan jika mahasiswa hanya titip hadir saja tetapi tidak menyimak materi yang diberikan atau bahkan ada mahasiswa yang ketiduran saat dosen menyampaikan materi”. 

Sedangkan menurut Yulian Sarah, S.Pt, salah satu tenaga pendidik di Prodi PTU menyebutkan lebih memilih perkuliahan secara tatap muka karena lebih bisa menghandel kelas dan mahasiswanya. “Kuliah secara online menurut saya kurang efektif karena materi yang telah diberikan saat daring akan disampaikan kembali pada saat kuliah praktik tatap muka” pungkasnya. Tanggapan lain juga muncul dari Junianto, S.ST.Pi, salah satu tenaga pendidik di program studi Budidaya Perikanan Air Tawar yang menyatakan lebih memilih pembelajaran secara online karena lebih efektif dan fleksibel.

Menurut Eldy Wiransyah mahasiswa Prodi BAT mengaku bosan pada saat melakukan kuliah secara daring, hal ini dikarenakan banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen serta adanya kerinduan untuk bertemu dengan teman-teman dan ingin merasakan lagi kuliah tatap muka yang menurutnya sangat membantu dalam memahami ilmu secara efektif. “saya sering merasa kebingungan apabila mendapat tugas dari Dosen, apalagi pada saat semua dosen kasih tugas jadi tugasnya sangat banyak” keluhnya.

Berbeda dengan teman sekelasnya, Anjeli Puspita Sari malah mengeluhkan sinyal internet yang tidak stabil ketika sedang mengikuti perkulihan secara daring. Sehingga banyak materi yang tidak dipahaminya akibatnya terputus jaringan internet. “Tempat saya agak susah sinyal, makanya banyak materi kadang-kadang tidak jelas, tambah lagi saya harus menyediakan kuota tiap harinya, kadang saya membeli kuota tiap minggu, kadang juga tiap hari, karena kuliah onlien itu memakan kuota yang lumayan banyak, apalagi subsidi kuota sudah di tiadakan” ujarnya.

Sementara, Vani Dwi Ramadhani mahasiswa Prodi BTH lebih memilih kelas online karena pengerjaan tugas dapat dikerjakan menyesuaikan dengan waktu kosong dan memiliki waktu untuk beristirahat yang lebih banyak. “saya merasa lebih suka online karena lebih efektif semua tugas bisa dikerjakan kapan aja walaupun beban tugas lebih banyak tapi juga banyak waktu untuk istirahat, tapi demi kelancaran kuliah aku lebih suka offline” ujarnya.

Sedangkan menurut, Siska Sindi Pertiwi mahasiswa Prodi PTU mengatakan kuliah daring sangat menyenangkan dan adakalanya sangat membosankan. Namun karena kuliah online tidak mengharuskan bertatap muka secara langsung membuat sedikit lebih rileks dalam belajar. “saya tidak perlu mengenakan baju yang rapi dan duduk tegak mendengarkan materi yang dosen berikan. Tetapi yang kurang menyenangkan dalam kemudahan belajar online terasa sulit dikarenakan susah mengakses e-learning yang disebabkan susahnya jaringan dan servernya yang down. Tugas juga terasa lebih banyak diberikan sehingga saya sedikit repot mengerjakannya” ungkapnya.

Menurut Inda Sari mahasiswa Prodi PTU mengatakan lebih memilih kuliah tatap muka karena bisa bersosialisasi dengan banyak orang bisa meredakan perasaan jenuh dan lelah karena tugas yang menumpuk. “Menurut saya perbedaannya hanya terletak di letak interaksinya doang ya, setelah kuliah tatap muka selepas itu kami bisa berdiskusi langsung dengan teman di kelas. Kalau kuliah online lebih menjadi generasi text book yang apa-apa mencari taunya melalui Google” kata Inda.

Kuliah daring/online memang kurang efektif dan membutuhkan biaya yang banyak terutama bagi mahasiswa. Setiap pembelajaran daring maupun luring terkadang ada kelebihan dan kekurangan serta memiliki dampak yang dirasakan tenaga pendidik dan mahasiswa yang masih bingung dengan penggunaan e-learning. Dan juga merasakan kejenuhan belajar/mengajar secara online lantaran kebiasaan dengan pembelajaran tatap muka yang lebih mudah berinteraksi langsung antara dosen dan mahasiswanya.

Penulis : Asih Sriyanti

Leave Comment

Your email address will not be published.