PRAKTIKUM ASYIK : MEMBUAT MESIN TETAS, KOMPETENSI YANG HARUS DIMILIKI MAHASISWA AKREL SETELAH LULUS KULIAH

AKREL (27/06/2022), Setiap memasuki semester genap tahun ajaran baru di AKREL, mahasiswa prodi PTU mendapatkan salah satu mata kuliah wajib yaitu mata kuliah instrumentasi alat penetasan, dimana pada mata kuliah ini mahasiswa akan dibekali ilmu terkait dengan instrumen alat penetasan, teknologi penetasan, parameter alat penetasan, sistem pengaturan dan kontrol alat tetas, komponen pelengkap mesin tetas, pengoperasian mesin tetas serta aplikasi teknologi yang akan digunakan dalam mesin tetas. 

Pada kesempatan kali ini, mahasiswa prodi PTU AKREL melakukan praktikum pembuatan mesin tetas sebanyak tiga unit, dimana dari 18 mahasiswa Prodi PTU dibagi menjadi 3 kelompok untuk membuat mesin tetas yang akan dibimbing oleh Dosen dan Teknisi mata kuliah tersebut.

“Ya, untuk tahun ini mata kuliah Instrumentasi Alat Penetasan membuatkan 3 unit mesin tetas dari Kepala Laboratorium Prodi PTU dimana nanti untuk 3 unit mesin tetas ini dibagi dari 18 orang mahasiswa yang akan praktikum sampai dengan akhir”  pungkas Ir. Tri Putra Syawali, S.Pt., IPM selaku penanggung jawab serta pengampu mata kuliah ini.

Pembuatan mesin tetas ini dilakukan dari awal pertemuan perkuliahan/praktikum sampai nanti dengan pertemuan akhir mata kuliah sebelum mahasiswa melaksanakan uji kemampuannya terkait dengan pembuatan mesin tetas di ujian akhir praktikum. Dalam hal pembuatan mesin tetas ini, mahasiswa diberikan terlebih dahulu pemahaman dan materi teknis dari pembuatan mesin tetas dari Dosen dan Teknisi mata kuliah, kemudian setelah itu diarahkan aplikasi pembuatan secara langsung untuk unit yang akan dibuat.

“Nanti sebelum pembuatan mesin tetas ini, kami memberikan materi dulu kepada mahasiswa terkait dengan teknis pembuatannnya serta alat-alat yang akan digunakan dalam pembuatannnya kemudian aplikasi pembuatan akan dipandu secara langsung oleh teknisi dilapangan” tambah Putra sapaan akrab Dosen pengampu mata kuliah ini.

Pembuatan mesin tetas ini diawali dari pembuatan gambar mesin tetas yang akan dibuat, kemudian menentukan kebutuhan kayu dan triplek yang akan digunakan serta alat dan bahan lain yang menjadi komponen yang harus ada dalam pembuatan mesin tetas.

Dalam praktikun yang sudah dimulai dari awal perkuliahan hingga saat ini hampir selesai dibuat oleh mahasiswa, hanya tinggal proses finising saja lagi, dimana mesin tetas yang dibuat ini akan di percantik dengan pengecatan, persiapan air sebagai media kelembaban dan pemasangan bohlam lampu sebagai sumber pemanas.

“Untuk saat ini mesin tetas yang dibuat oleh mahasiswa sudah hampir selesai, hanya tinggal proses pengecatan saja lagi sehingga terlihat lebih cantik, diharapkan selesainya perkuliahan dan selesai juga pembautan mesin tetas” tambah Putra.

Perlu diketahui pada saat ini proses perkuliahan sudah masuk pada minggu ke 15, itu berarti perkuliahan sudah hampir selesai dan tinggal masuk ketahap akhir dari serangkaian perkuliahan begitu juga praktikum, dengan demikian mahasiswa hanya tinggal tahap akhir untuk melaksanakan ujian akhir praktikum dan ujian akhir semester.

“Saat ini perkuliahan sudah masuk di pertemuan ke 15, sehingga mahasiswa sudah hampir selesai melaksanakan perkuliahan dan juga praktikum, hanya menunggu ujian akhir praktikum dan ujian akhir semester” jelas Nining Suningsih, S. Pt., M. Si selaku Koordinator Prodi TPTU

Praktikum pembuatan mesin tetas ini merupakan salah satu bagian penting untuk memberikan bekal ilmu bagi mahasiswa Prodi TPTU AKREL, dimana nanti setelah selesai kuliah di AKREL, lulusan AKREL diharapkan mempunyai bekal ilmu untuk mereka menerapkannya di lingkungan dan juga diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat umum dari ilmu yang didapatkan di bangku perkuliahan.

Pengetahuan yang dimiliki dari pembuatan mesin tetas ini juga memberikan manfaat bagi masyarakat umum yang belum mengetahui secara baik, karena dengan penggunaan mesin tetas proses penetasan telur ayam (unggas red,) dapat lebih efisien dan membuat tingkat keberhasilan proses penetasan lebih baik dibandingkan dengan cara proses penetasan secara alami dengan menggunakan induk unggas secara langsung.

“Diharapkan juga setelah mahasiswa mengetahui cara pembuatan dan prosesdur pengoperasian mesin tetas ini, untuk kedepan menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat umum terkait dengan ilmu yang sudah diperoleh oleh mahasiswa ketika berada di bangku perkuliahan” tambah Irfan Kamil, S.Pt yang merupakan salah satu tim pengampu mata kuliah ini.

Sebagai informasi, penggunaan mesin tetas memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan penetasan telur secara alami dan alat tersebut bisa membantu peternak untuk mempercepat proses penetasan telur, diantaranya keuntungan menggunakan mesin tetas itu adalah ruang mesin tetas lebih luas sehingga dapat menampung lebih banyak telur dari pada metode pengeraman induk secara alami. Selain itu, masih ada berbagai keuntungan penetasan telur menggunakan mesin tetas dibandingkan dengan penetasan alami.

Persentase keberhasilan telur yang menetas lebih besar dibanding pengeraman alami. Melalui proses pengeraman alami, telur yang menetas hanya 50-60 persen. Sementara, penetasan melalui bantuan mesin tetas dapat meningkat hingga 80 persen.

Penetasan telur dapat dilakukan terus menerus tanpa dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Pasalnya, mesin tetas biasanya ditempatkan di dalam ruangan dan seluruh komponen pendukungnya terkontrol. Tingkat hidup anakan hasil penetasan melalui mesin tetas lebih tinggi dari pada penetasan alami. Pasalnya, perubahan suhu dari dalam telur ke lingkungan tidak terlalu ekstrem. Berbeda halnya anakan hasil penetasan alami harus lebih menyesuaikan suhu setelah anakan menetas. Kontrol terhadap kualitas telur lebih mudah dilakukan. Selain itu, resiko kontaminasi bakteri dan penyakit relatif lebih kecil karena telur disimpan di dalam ruangan. Penggunaan mesin tetas untuk membantu penetasan telur terbukti menguntungkan sehingga mampu meningkatkan pendapatan peternak. Karena itu, banyak para peternak beralih menggunakan mesin tetas sebagai alat untuk menetaskan telur. 

“kami selaku dosen pengampu mata kuliah mengharapkan kepada mahasiswa Prodi TPTU nantinya setelah menyelesaikan perkuliahannya di AKREL bisa menerapkan ini semua di masyarakat sehingga bisa membantu masyarakat dan meningkatkan taraf hidup alumni itu sendiri sebagai pendapatan bagi mereka” jelas Putra. Putra juga menambahkan bahwa pengeraman telur dengan menggunakan mesin tetas sangatlah efektif dan efisien dilakukan mengingat tingkat keberhasilan dari proses pengeraman sangat baik dibandingkan dengan tanpa menggunakan mesin tetas atau alami dengan indukan.

“Benar, penggunaan mesin tetas untuk proses penetasan telur sangat efektif dan efisien digunakan, berdasarkan beberapa referensi yang saya temui untuk lama masa pengeraman beberapa ternak unggas itu adalah untuk ayam lebih kurang 21 hari, puyuh 16-17 hari, itik 28 hari, angsa 30 hari dan kalkun 28 hari” tutup Putra.

Ditempat lain, salah satu mahasiswa Prodi PTU AKREL menyampaikan bahwa kami sebagai mahasiswa sangat berterimakasih sekali kepada AKREL melalui prodi PTU karena kami memang benar-benar melakukan proses aplikasi pembuatan secara langsung terutama pembuatan mesin tetas ini, mulai dari awal hingga selesai unit mesin tetas. “Kami sangat berterimakasih kepada Dosen dan Teknisi mata kuliah instrumentasi alat tetas, karena kami memamng benar-benar melalukan pembuatan secara langsung dan  mengetahui secara jelas pembuatan mesin tetas, komponen yang ada dalam mesin tetas, teknik pengaturan suhu dalam mesin tetas sampai dengan pengoperasiannya” jelas Wahyu salah satu mahasiswa Prodi PTU semester 2 ini.

Penulis : Yulian Sharah.

Leave Comment

Your email address will not be published.